Kamis, 08 Desember 2016

Motivasi Menghafal al Qur’an



Menjadi seorang penghafal al Qur’an bukanlah suatu kebanggaan
Tapi ia merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan

Menjadi seorang penghafal al Qur’an, bukan agar kita mendapat pengakuan
Bukan pula agar kita mendapatkan puji-pujian
Bukan juga agar kita dikagumi
Namun, semua hanya agar Allah meridloi kita,
Menempatkan kita pada maqom yang mulia di sisi-Nya
Agar kita juga menjadi umat kebanggaan Rasulullah
Agar kita mendapat syafaat dari al Qur’an di yaumil hisab
Dan menjadi penolong bagi orang tua dan sanak keluarga di hari penuh kesulitan

Jikalau ada seorang menghafal al Qur’an demi dianggap alim, dikagumi makhluq dan mengais materi, maka sia-sialah segala daya dan upaya yang ia kerahkan
Layaknya sebutir pasir di sebuah batu yang amat licin, diterpa angin sepoi langsung hilang tak berbekas

Amalannya hangus percuma
Meski di dunia dimuliakan manusia namun di yaumil hisab Allah akan menghinakannya bahkan di hadapan seluruh manusia yang pernah hidup di bumi dengan berfirman, “Bohong kamu! ”

Sebelum semuanya terlambat dan menjadi sia-sia
Marilah kawan kita luruskan niat menjadi penghafal al Qur’an
Semata-mata karena Allah saja

Amanah penghafal al Qur’an bukan hanya dalam menjaga hafalannya,namun ia juga harus memahami kandungan al Qur’an lalu membagi ilmunya serta membumikannya
Tak afdhol jika menghafal al Qur’an hanya untuk koleksi memori
Karena seperti yang disabdakan Rasulullah dalam hadits shohihnya,
“Khoirukum man ta’allamal Qur’ana wa ‘allamahu
Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al Qur’an dan mengajarkannya”

Aisyah Salsabila
17 April 2016

Allah Selalu Tahu yang Terbaik



Bagi sebagian orang, mungkin ini cerita biasa. Sebagian bahkan bisa jadi mengalami hal serupa. Memetik hikmah yang sama meski dalam kasus berbeda. Tapi saya tetap ingin berbagi proses bagaimana Allah mengajarkan hikmah.

Ini adalah cerita saya, seorang pelajar sekolah menengah atas yang mengikuti sebuah lomba menulis yang cukup bergengsi karena diselenggarakan oleh salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia. Total hadiahnya tidak tanggung-tanggung, 80 juta rupiah. Dan bagi 30 finalis terbaik, akan diundang ke Balai kota Bandung untuk mengikuti pelatihan menulis dengan 3 penulis kondang. Temanya : Menulis surat untuk KPK, Generasiku Melawan Korupsi.

Tertariknya bukan main, dengan hadiah diundang ke Bandung yang biayanya ditanggung panitia lomba ditambah 2 diantara penulis yang akan mengisi adalah penulis favorit saya. Untuk mengikuti lomba itu saja, rasanya sudah sangat menyenangkan.  Bersama salah seorang teman, saya mengikuti lomba itu. Di awal kami cukup optimis bisa masuk 30 finalis karena pada saat itu kami mengira pesertanya mungkin kurang lebih 150 orang saja. 

Kami menulis dengan semangat. Sesuai dengan syarat-syarat lombanya, suratnya harus ditulis tangan di kertas folio bergaris. Lalu dikirim melalaui pos dengan alamat tujuan, kantor pos Bandung.
Malam sebelum mengeposkan surat, saya benar-benar tidak bisa tidur memikirkan surat saya. Apakah kata-katanya sudah sopan, apakah ada kalimat yang tidak nyambung, apakah secara umum tidak sistematis, membingungkan dan absurd. Ditambah lagi tulisan tangan saya memang jelek, dan saya typo. Saya takut kalau-kalau ada satu huruf saja yang tidak tertulis, atau salah dalam tanda baca. Hadau… saya benar-benar takut. Walhasil, saya sampai 3 kali menyalin tulisan saya.

Tak dinyana, kekurangan informasi membuat kami tak sadar bahwa hari ketika kami mengirim surat adalah hari deadline lomba. Tapi tak apa, kami optimis Allah akan membantu. Semoga. Amien Ya Robb…
Kami menanti-nanti pengumuman lomba. Penuh harap moga saja kami termasuk salah satu dari 30 finalis itu. Tak mengapa walau hanya urutan yang ke-29 dan ke-30. Yang penting kami berdua bisa ke Bandung dan bertemu dengan penulis favorit kami. Hehehe…

Setiap kali saya connect dengan internet, saya akan selalu mencari situs yang memuat pengumuman hasil lomba. Hingga malam itu,,, sambil menggigit bibir, berulang kali saya men-scroll ke atas ke bawah. Nama kami tak ada yang tercantum di daftar 30 finalis. Tidak ada. Benar-benar tidak ada. Ya Allah.. saya benar-benar kecewa pada diri saya sendiri. Hati saya benar-benar remuk parah. Malam itu saya tidak tahu apakah perasaan saya bisa lebih baik lagi. Saya down.

Keesokan harinya, perihnya masih terasa sekali. Tapi saya berusaha memperbaiki hati saya. Menambal luka. Belajar menerima. Membesarkan hati. Berulang kali berfikir ulang, membisiki hati dengan kalimat “Aisyah, mungkin ini yang terbaik di mata Allah. Allah belum memberi karunia-Nya yang satu ini kepada Aisy. Karena bisa jadi Aisy justru kufur atau malah sombong. Sudah diterima saja. Wajar, Aisyah…, lha yang ikut sampai 4500-an orang. ”

Hufft… Alhamdulillah akhirnya saya bisa move on, setelah selama ini saya pikir perasaan saya tidak akan bisa lebih baik. Selang 3 harian bakda mengetahui hasil lomba, ada kejutan. Tulisan saya yang sebelumnya saya kirim ke sebuah tabloid saat masih menanti pengumuman, dimuat.  Alhamdulillah Ya Allah… 

Bagi saya ini merupakan keajaiban (hehe, mulai alay). Disaat saya menginginkan sesuatu lalu memperjuangkannya dengan susah payah, Allah justru menjauhkannya. Awalnya saya tidak bisa menerima dan berfikir bahwa perasaan saya tak mungkin bisa menjadi lebih baik. Namun ternyata saya salah. Saya bisa move on. Saya bisa mengobati hati saya. Hingga saya hadir dengan sepotong hati yang baru.

Dan saat saya telah merelakan dan melepaskannya, suatu keajaiban dan kejutan tak terduga datang dari Allah. Allah bahkan memberi yang lebih baik dari yang saya inginkan sebelumnya. Ya Allah… Terima kasih… Engkau memang selalu Mengetahui & Memberi yang terbaik bagi hambaMu. Sedangkan mereka kerap kali keras kepala, menganggap apa yang mereka inginkan, itulah yang terbaik.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (al Baqoroh : 216)

Aisyah Salsabila
22 April 2016