Bagi sebagian orang, mungkin ini
cerita biasa. Sebagian bahkan bisa jadi mengalami hal serupa. Memetik hikmah
yang sama meski dalam kasus berbeda. Tapi saya tetap ingin berbagi proses
bagaimana Allah mengajarkan hikmah.
Ini adalah cerita saya, seorang
pelajar sekolah menengah atas yang mengikuti sebuah lomba menulis yang cukup
bergengsi karena diselenggarakan oleh salah satu perusahaan terkemuka di
Indonesia. Total hadiahnya tidak tanggung-tanggung, 80 juta rupiah. Dan bagi 30
finalis terbaik, akan diundang ke Balai kota Bandung untuk mengikuti pelatihan
menulis dengan 3 penulis kondang. Temanya : Menulis surat untuk KPK, Generasiku
Melawan Korupsi.
Tertariknya bukan main, dengan hadiah
diundang ke Bandung yang biayanya ditanggung panitia lomba ditambah 2 diantara
penulis yang akan mengisi adalah penulis favorit saya. Untuk mengikuti lomba
itu saja, rasanya sudah sangat menyenangkan. Bersama salah seorang teman, saya mengikuti
lomba itu. Di awal kami cukup optimis bisa masuk 30 finalis karena pada saat
itu kami mengira pesertanya mungkin kurang lebih 150 orang saja.
Kami menulis dengan semangat. Sesuai
dengan syarat-syarat lombanya, suratnya harus ditulis tangan di kertas folio
bergaris. Lalu dikirim melalaui pos dengan alamat tujuan, kantor pos Bandung.
Malam sebelum mengeposkan surat, saya
benar-benar tidak bisa tidur memikirkan surat saya. Apakah kata-katanya sudah
sopan, apakah ada kalimat yang tidak nyambung, apakah secara umum tidak sistematis,
membingungkan dan absurd. Ditambah lagi tulisan tangan saya memang jelek, dan
saya typo. Saya takut kalau-kalau ada satu huruf saja yang tidak tertulis, atau
salah dalam tanda baca. Hadau… saya benar-benar takut. Walhasil, saya sampai 3
kali menyalin tulisan saya.
Tak dinyana, kekurangan informasi
membuat kami tak sadar bahwa hari ketika kami mengirim surat adalah hari
deadline lomba. Tapi tak apa, kami optimis Allah akan membantu. Semoga. Amien
Ya Robb…
Kami menanti-nanti pengumuman lomba.
Penuh harap moga saja kami termasuk salah satu dari 30 finalis itu. Tak mengapa
walau hanya urutan yang ke-29 dan ke-30. Yang penting kami berdua bisa ke
Bandung dan bertemu dengan penulis favorit kami. Hehehe…
Setiap kali saya connect dengan
internet, saya akan selalu mencari situs yang memuat pengumuman hasil lomba.
Hingga malam itu,,, sambil menggigit bibir, berulang kali saya men-scroll ke
atas ke bawah. Nama kami tak ada yang tercantum di daftar 30 finalis. Tidak
ada. Benar-benar tidak ada. Ya Allah.. saya benar-benar kecewa pada diri saya
sendiri. Hati saya benar-benar remuk parah. Malam itu saya tidak tahu apakah
perasaan saya bisa lebih baik lagi. Saya down.
Keesokan harinya, perihnya masih
terasa sekali. Tapi saya berusaha memperbaiki hati saya. Menambal luka. Belajar
menerima. Membesarkan hati. Berulang kali berfikir ulang, membisiki hati dengan
kalimat “Aisyah, mungkin ini yang terbaik di mata Allah. Allah belum memberi
karunia-Nya yang satu ini kepada Aisy. Karena bisa jadi Aisy justru kufur atau
malah sombong. Sudah diterima saja. Wajar, Aisyah…, lha yang ikut sampai
4500-an orang. ”
Hufft… Alhamdulillah akhirnya saya bisa
move on, setelah selama ini saya pikir perasaan saya tidak akan bisa lebih baik.
Selang 3 harian bakda mengetahui hasil lomba, ada kejutan. Tulisan saya yang
sebelumnya saya kirim ke sebuah tabloid saat masih menanti pengumuman, dimuat. Alhamdulillah Ya Allah…
Bagi saya ini merupakan keajaiban
(hehe, mulai alay). Disaat saya menginginkan sesuatu lalu memperjuangkannya
dengan susah payah, Allah justru menjauhkannya. Awalnya saya tidak bisa
menerima dan berfikir bahwa perasaan saya tak mungkin bisa menjadi lebih baik.
Namun ternyata saya salah. Saya bisa move on. Saya bisa mengobati hati saya.
Hingga saya hadir dengan sepotong hati yang baru.
Dan saat saya telah merelakan dan
melepaskannya, suatu keajaiban dan kejutan tak terduga datang dari Allah. Allah
bahkan memberi yang lebih baik dari yang saya inginkan sebelumnya. Ya Allah…
Terima kasih… Engkau memang selalu Mengetahui & Memberi yang terbaik bagi hambaMu.
Sedangkan mereka kerap kali keras kepala, menganggap apa yang mereka inginkan,
itulah yang terbaik.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (al Baqoroh : 216)
Aisyah Salsabila
22 April 2016